Kamis, 23 Maret 2017

ANAK KOST KU PENGGANTI SUAMIKU

Halo Istri.

Lama tak update, kali ini Blog Ceritakhususpasutri kembali dengan cerita threesome seorang istri tentara yang ditinggal suaminya tugas ke perbatasan Indonesia - Malaysia. Ada 5 cerita yang dikirim oleh teman kita itu, dan kesemuanya sangat luar biasa. Benar benar beruntung teman kita satu ini karena kehidupan seksnya sangat memuaskan meskipun bukan dari suaminya. Oke, kalau Para Istri punya cerita yang ingin dishare di Blog Ceritakhususpasutri, langsung aja kirim email ya.

Nah ini dia cerita kali ini :

ANAK KOST KU PENGGANTI SUAMIKU

Perkenalkan, namaku Juwita Maharani, namun lebih biasa disapa Juwita. Aku seorang Ibu Rumah Tangga biasa, hari - hariku disibuki dengan mengurusi segala keperluan rumahku dari mulai memasak, mencuci, berkemas, mengurusi anak, dan lainnya. 

Meskipun hanya seorang Ibu Rumah Tangga, aku tetap memperhatikan kecantikanku. Di umur ku yang menginjak 28 Tahun ini, rupaku seperti lebih muda 5 tahun dari umurku. Badanku masih terawat, hanya ada sedikit lemak di perutku yang memang sudah menjadi kodratnya wanita yang telah melahirkan. Susuku masih padat dan kencang karena memang tidak pernah dipakai menyusui oleh anakku. Ya, paling hanya suamiku saja yang gemar menyusu padaku hihihi.

Oh ya, bicara soal suamiku, namanya Beni. Dia adalah Anggota TNI. Seperti TNI lainnya, badan suamiku tegap, tinggi, kekar, pokoknya gagah deh. Sesuai dengan badannya, tenaganya di ranjang juga sangat hebat, aku selalu bisa dipuaskannya ketika kami beradu kasih di kamar kami. Hanya saja, suamiku termasuk jarang menyentuhku. Maklum, ia sering ditugaskan oleh Komandannya ke daerah - daerah seperti Papua maupun perbatasan dengan negara tetangga. Sekali bertugas, biasanya memakan waktu 6 bulan, bahkan tak jarang 1 tahun. Ya, selama itu lah aku tidak merasakan kehangatan seorang laki - laki.  Dan sebagai wanita, tentu aku merindukan disentuh oleh suamiku. Kadang kala ada saja godaan dari tetangga bahkan rekan suamiku sendiri. Namun semuanya dapat ku tepis, dan sebagai gantinya aku menyalurkan birahiku dengan bermasturbasi dengan jariku.

2 tahun yang lalu, aku dan suamiku memutuskan untuk membuka usaha rumah kost-kostan untuk karyawan/karyawati. Kebetulan kamar di lantai atas rumahku ada 4 yang kosong. Dan setelah dikostkan, 4 kamar itu langsung penuh terisi oleh junior - junior suamiku yang masih bujangan. Lumayan lah, selain dapat menambah penghasilan, bisa juga mengusir rasa sepi aku dan anakku ketika suamiku ditugaskan ke daerah. Namun, siapa sangka? Bukan hanya rasa sepi saja yang bisa diusir, tetapi juga kerinduanku akan sentuhan laki - laki pun bisa terobati dengan membuka kost-kostan di rumahku itu.

Semuanya bermula dari suatu siang, aku yang baru pulang dari mengantar anakku mendengar ada suara - suara wanita dari lantai atas, tempat kamar kost berada. Dengan perlahan aku naik ke lantai atas, memastikan apa yang sedang terjadi. Degggg!!! Jantungku berhenti sejenak. Aku melihat Andri dan Riski yang adalah penghuni kamar kostku sedang menyetubuhi seorang wanita. 

Wanita itu sedang disetubuhi dari belakang oleh Andri, sedangkan dari depan penis Riski sedang berada di dalam mulut wanita itu. 

"Mmhhmm mhhmmmm", suara wanita itu mendesah yang tertahan oleh penis riski.

"Argghhh peret banget memek bu salmah, Ris, udah bolak - balik kita pake, masih aja peret", Ucap Andri sambil terus memaju mundurkan penisnya.

Eh, tunggu dulu! Andri menyebut nama Bu Salmah? Astaga, aku baru sadar kalau wanita itu adalah Bu Salmah karena wajahnya tertutupi rambutnya sedari tadi. Bu Salmah sama sepertiku, sama - sama istri Anggota TNI dan saat ini kami juga sama - sama ditinggal suami kami bertugas ke perbatasan Indonesia-Malaysia. Aku tak menyangka, wanita yang sedang disetubuhi oleh 2 orang pria di kost milikku itu adalah Bu Salmah. Apa yang menjadikannya seperti itu? Setauku Bu Salmah adalah sosok yang anggun dan berwibawa. Umurnya pun mungkin sama sepertiku, aku cukup akrab dengannya. Namun, aku tak tahu apa yang bisa membuatnya tergoda sampai mau melakukan hal seperti itu. Aku paham, pasti karena tak mendapatkan dari suaminya setelah sekian lama lah yang membuatnya seperti itu. Aku pun bersyukur aku tak sampai seperti dirinya meskipun sama - sama lama tak berhubungan dengan suamiku.

Plaak plaak plak, begitu suara pertemuan selangkangan Andri dan Bu Salmah seiring dengan keluar masuk penis Andri di vagina Bu Salmah yang berbulu lebat. Tubuh Bu Salmah berguncang setiap kali Andri mendorong penisnya masuk, payudaranya terayun - ayun seirama dengan tubuhnya. Matanya memejam, seakan meresapi kenikmatan yang sedang diperolehnya dari kedua laki - laki yang bukan suaminya itu. Sementara, mulutnya tersumpal penis Riski, desahannya hanya tertahan. 

Sungguh pemamdangan yang sangat erotis, melihat ketiga orang itu saling membagi kenikmatan. Nafasku mulai berat tidak beraturan. Tak ku pungkiri, menyaksikan adegan ini membuat birahiku naik, rasa gatal mulai menjalari vaginaku dan terkadang teras berdenyut. 

Ah, kenapa aku ini? Aku tak boleh membiarkan mereka menggunakan rumahku sebagai tempat berzina. Segera ku atur nafasku, dan berpikir apa yang harus ku lakukan. Dan daripada kelamaan berpikir, ku kejutkan mereka, dan mereka langsung menoleh ke arah pintu kamar. Melihatku, mereka langsung terkejut dan reflek mengambil pakaian masing - masing. Bu Salmah pun langsung pergi setelah berpakaian lengkap tanpa mengucapkan sepatah kata pun dengan muka pucat pasi.

"Kalian berdua, berani - beraninya kalian ngotorin rumahku!", ku bentak 2 orang itu. Wajah mereka langsung pucat, tertunduk ke bawah.

"Maaf, Bu. Kami khilaf", jawab Andri dengan nada lemah.

"Khilaf? Udah ketahuan baru ngomong khilaf! Jangan - jangan sudah sering kalian pakai rumahku. Kalian pikir ini hotel apa?", jawabku lantang.

"Awas saja kalian! Aku pasti beritahu mas Beni. Dan oh ya, aku minta kalian keluar dari rumahku. Cari kost lain yang bisa kalian pakai sesuka kalian.", lanjutku.

"Iya, bu. Maafkan kami. Tolong jangan beritahu Pak Beni, bisa dihabisin kami, Bu", jawan Riski kali ini.

"Apa peduliku? Pokoknya sekarang kalian kemasi barang kalian, dan pergi dari sini!", bentakku lagi.

"Baik bu, sore ini kami keluar", jawab mereka hampir bersamaan.

"Bagus lah", kataku.


Aku pun berlalu pergi dari hadapan mereka yang masih tertunduk lesu. Ku turuni anak tangga dan berlalu ke dapur untuk minum. Tenggorokanku terasa kering sehabis kejadian tadi. Terlebih aku menghabiskan suaraku untuk teriak membentak mereka. Ku lihat, dapurku, masih ada pakaian kotor, lekas ku massukkan ke mesin cuci. Setelah selesai dengan pekerjaan di dapur, badanku terasa sedikit panas. Ah, enaknya sih mandi kalau sudah begini. 

Langsung saja, aku pun masuk ke kamaarku. Kamar mandi untukku dan suamiku memang berada di dalam kamar kami. Ku lepasi satu persatu pakaianku yang kemudian digantikan dengan balutan handuk. Syurrrrrr, air pun memancur dari shower kamar mandiku. Perlahan ku sapu tubuhku dengan telapak tanganku, meratakan air ke sekujur tubuhku.

"Ashhh", aku mendesah ketika jemariku menyapu payudaraku. Terasa geli geli nikmat. Entah kenapa aku tiba - tiba merasakan nafsu birahi yang begitu besar.

"Ssshhh mhhmmmm", ku ulangi sentuhanku ke payudaraku sendiri. Kasihan pikirku, payudara yang indah ini sudah lama tak disentuh suamiku. 

Lama kelamaan aku sentuhan - sentuhanku pada payudaraku berubah menjadi remasan. Maklum saja, aku sering bermasturbasi ketika birahi menghampiriku. Tanganku yang satu bergerak ke bukit kemaluanku, ku elus - elus rambut kemaluanku yang tertata rapi karena rutin ku cukur sebulan 2 kali. Aku lalu duduk, pahaku ku buka lebar. Kedua tanganku aktif merangsang tubuhku sendiri, satunya meremas payudaraku, satunya menggelitik klitorisku sambil ku mulai membayangkan suamiku yang sedang melakukannya. Vaginaku langsung banjir cairan cintaku, putingku pun semakin menegang, dan keduanya semakin terasa gatal. 

Namun, di sela - sela aku membayangkan suamiku sedang menikmati tubuhku, bayangan lain muncul. Bayangan ketika Andri dan Riski sedang menyetubuhi Bu Salma. Ya, bayangan penis Andri dan Riski yang kalau ku ingat - ingat sangat besar bila dibandingkan dengan milik suamiku sedang memenuhi lubang vagina dan mulut Bu Salma. Ouhhh, pasti Bu Salma sangat menikmatinya. Tubuhnya terguncang setiap dorongan penis Andri di vaginanya.  Ahhh ehmmmm, Bu Salmah, kau curang. Nasibmu sama denganku, ditinggal suami untuk tugas. Namun, kau bisa mendapat kenikmatan dari laki - laki lain. Oh, Bu Salma, aku iri denganmu. Aku juga ingin kenikmatan seperti itu.

"Sialan, kenapa aku ini? Kenapa aku membayangkannya? Aku? Tak boleh, aku tak boleh berpikiran seperti itu. Aku ini Istri yang setia, tak boleh aku memikirkan laki - laki kain" benakku sendiri yang menyadari aku kesalahan yang baru ku buat. Lekas aku langsung mengakhiri masturbasiku, dan menyelesaikan mandiku.

Selesai mandi, aku pun mengeringkan tubuhku. Pada saat aku melewati kaca riasku, ku perhatikan tubuhku sendiri. Masih sangat terawat meskipun sudah melahikan satu orang anak. Payudaraku masih kencang, pantatku montok. Tak ada cacat sedikitpun pada tubuhku. Huffttt, sayang sekali, tubuh indahku ini memang jarang dibelai oleh Suamiku. Ya, namanya juga istri seorang abdi negara.

"Tok tok tok", tiba - tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Segera ku berpakaian seadanya tanpa pakaian dalam, namun tetap ku kenakan jilbabku.

"Oh, kenapa lagi?", tanyaku ketika membuka pintu kamarku. Ternyata Andri dan Riski yang mengetuknya.

"Bu, barang - barang kami sudah selesai dikemas", jawab Andri.

"Oh, bagus lah. Berarti kalian sudah bisa angkat kaki dari rumahku ini kan", jawabku.

"Iya, bu. Tapi ..."

"Tapi apa?", potongku.

"Tapi kami mau meminta uang kos kami bulan ini, Bu. Ini kan baru tanggal 4, rugi dong kami kalau kami main pergi gitu aja",  jawab Riski.

"Oh, oke, uang segitu tak ada artinya bagiku", jawabku meninggikan diri. Kalian pikir, kalian bisa membatalkan niatku mengsir kalian dengan cara itu. 

Aku kemudian masuk ke kamar, hendak mengambil dompetku. Namun, aku lupa menaruhnya di mana. Di tengah fokusku mencari dompetku, tiba - tiba ada tangan yang memelukku dari belakang. Dan ketika ku toleh, ternyata itu adalah Riski. Sedangkan, Andri ku lihat sedang memasukkan sesuatu ke dalam celananya, oh tidak. Itu pasti kunci kamarku yang ku lihat sudah tak tegantung lagi di tempatnya.

"Apa apaan kalian?", teriakku.

"Kami gak ngapa - ngapain kok, Bu", jawaab Andri

"Kami cuma mau ngasih pelajaran ke Ibu Juwita yang memang cantik jelita ini", sambung Riski.

"Lepaskan, hei lepaskan", teriakku lagi.

"Hahahaha, minta dilepasin ya? Oke, kami lepaskan", kata Riski.

Bukan aku yang dilepaskan, tetapi pakaianku lah yang dilepaskannya. Tanpa kesusahan, ia merobek bajuku dan menariknya lepas dari tubuhku. Aku kini setengah telanjang, payudaraku sekarang bebas dilihat oleh kedua orang biadab ini. Riski pun langsung mencengkram payudaraku dan meremasnya.

"Ahhhh berengsek kalian, bangsat!", makiku.

"Hahahahaha", mereka hanya tertawa mendengar makianku.

"Widih, Ris, sudah siap rupanya Bu Juwita ini, sudah ga pake dalaman hahahaha" kata Andri yang disambut tawa oleh Riski.

"Sialan, kalian sialan. Kalian akan ku laporkan karena telah melakukan ini", ancamku, berharap mereka menyudahi aksi mereka.

"Hahahaha, silahkan bu. Tapi saya jamin ya, Ibu tidak akan mau ngelaporkannya! Karena ibu pasti akan menikmatinya", jawab Riski.

"Udah yuk kita garap aja, dah nafsu aku lihat body lonte ini", sambung Andri.

"Yoi, memang udah lama juga aku ngincar ibu ini, baru ini kesampean. Benar - benar sesuai dugaanku, bodinyaa mulus manteep banget dah", sambung Riski.

Andri kemudian mendekat. Ditariknya rokku dengan paksa, sehingga aku benar - benar telanjang bulat sekarang. Jilbabku pun tak luput dilepasnya. 

Riski melepaskan pelukannya, aku didorongnya ke ranjangku sampai terlentang. Aku berusaha menutupi tubuhku dengan tanganku, namun tenaga Riski begitu kuat, tak mampu ku lawan. Disingkirkannya tanganku, sehingga payudaraku bebas dilihat. Lalu, dengan kasar ia remas payudaraku sebelah kanan, dan satunya ia hisapi. 

Andri tak kalah sibuknya. Tanpa rasa jijik ia menjilati jari - jari kakiku. Aku, aku memejamkan mataku, tak mau ku lihat apa yang dilakukan mereka ke tubuhku. Air mataku pun mengalir, dadaku terasa sesak merasakan sakitnya semua ini. Aku sudah tak mampu berkata - kata lagi, percuma juga, mereka sudah tak peduli apapun selain nafsu bejat mereka.

Risku terus mengerjai kedua payudaraku. Bergantian, payudaraku di hisap, dijilat, dan dicupangnya. Andri pun masih menikmati tubuh bagian bawahku, dari kaki ia pindah ke betis, dan sekarang sudah di pahaku, semua tak luput dari jilatannya. Menerima perlakuan seperti itu, tubuhku meresponnya dengan menggeliat menahan geli, namun aku masih menahan rangsangan - rangsangan yang ku terima. 

"Ouuhhssshh", desahku yang tak mampu ku tahan ketika tangan Andri menyentuh bibir vaginaku.

"Hahaha, akhirnya kau menikmatinya juga", kata Andri.

"Jangan harap", kataku sambil tetap memejamkan mataku. Aku mulai realistis, tak mungkin ku melawan mereka, namun aku tetap tak boleh menikmatinya. Aku hanya ingin dinikmati oleh suamiku.

"Oh ya? Lihat saja siapa yang akan menjadi liar nanti" jawab Andri.

Andri pun langsung melanjutkan aksinya, ku rasakan ada sesuatu yang basah menyentuh pinggir vaginaku. Oh, ini lidah. Rasanya begitu geli, pinggulku sampai bergoyang menerimanya. Lidah itu perlahan mendekat ke bibir vaginaku. Dan Cuppssss, bunyi yang dihasilkan kala Andri menghisap klitorisku. Badanku langsung seperti tersengat arus listrik. Desah lirihku pun keluar begitu saja, apa - apa yang dilakukan Andri? Mau apa dia?.

Berikutnyam ku rasakan lidah itu seperti menggelitik klitorisku? Aku tak kuasa menahan desahku lagi. Rasanya sungguh nikmat, belum pernah suamiku melakukannya padaku. Nikmat, iya nikmat sekali. Ah, tubuhku mengkhianatiku, tubuhku seperti menginginkannya. Dengan sendirinya pinggulku bergoyang mengikuti irama sapuan lidah Andri.


Aku, aku merasa seperti tak mampu lagi menahan semua kenikmatan ini. Tubuhku menuntut untuk menerimanya. Tubuh yang memang haus akan kenikmatan seperti ini. Tanganku meremas sprei, bibir bawahku ku gigit, masih mencoba menahan semua kenikmatan ini. 

"Ashhhhs ahhhh", aku mendesaah, jelas dan keras malah. Pertahananku roboh menikmati kegelian di vagina dan payudaraku.

Mereka hanya tertawa melihat aku yang sudah mereka sendii taklukkan. Andri semakin mempercepat jilatannya di vaginaku, Risku pun semakin kuat menghisap payudaraku. Aku, aku ingin ini. Ya, aku ingin kepuasanku saat ini. Aku pasrah dengan yang mereka lakukan. Tanganku pun bergerak, mencari kepala mereka berdua, ku jambak dan ku tekan ke payudara dan vaginaku. Meminta mereka untuk lebih liar terhadap tubuhku. Vaginaku terasa sangat gatal, klitorisku membengkak. Dan di saat ku rasakan orgasme hampir datang, justru mereka berdua menghentikan cumbuannya. Kenapa?

"Oshhhh siaaalhh", pekikku

"Kenapa bu? Ibu menikmatinya?", tanya Andri yang hanya ku diamkan saja sambil mengatur nafas.

"Kalau ibu mau, ayo dong ibu yang minta kepada kami", sambungnya.

"Ya bu, kami masih ada etika bu. Kalau ibu mau kenikmatan ini, ayo kita lakukan bersama, dan kami mau ibu melayani kami sungguh - sungguh", Sambung Riski yang mulai memainkan jari - jarinya di putingku disusul Andri yang kini memainkan klitorisku dengan jarinya. 

"Ayo bu, minta lah kepada kami untuk dipuaskan", begitu kata mereka berdua bergantian.

"Mhhmmmm sshhhsss ahhh", aku mulai mendesah lagi menerima rangsangan dari jari - jari mereka. 

Ah sial, kenapa? Kenapa mereka memperlakukanku seperti ini? Aku serasa dilecehkan oleh mereka. Kenapa mereka tidak memperkosaku begitu saja? Apa aku harus memintanya? Tubuhku? Ya, tubuhku membutuhkannya. Pinggulku bergoyang menyambut setiap gesekan jemarinya ke klitorisku. Putingku semakin mengeras. Rasa tanggung yang ku dapatkan tadi kini betul - betul menuntut untuk dituntaskan.

"Bu, kau menginginkannya bukan?", Bisik Riski di telingaku yang diteruskannya dengan menjilati telingaku itu.

"Ayo bu, hanya tinggal memintanya, yah ayo bu kita saling menikmati", bisiknya lagi.

Aku semakin tak tahan, semua rangsangan ini memang menuntut untuk dipuaskan. Desahanku desahanku kian sering keluar dari mulutku. 

"Ashhsss ochhhcchhh plisss puasskan aku", akhirnya aku memintanya. 

Mendengar itu, mereka tertawa puas. Riski langsung mencium bibirku yang langsung ku sambut. Ciuman kami begitu liar, lidah kami saling beradu. Tangannya meremas kedua payudaku sambil memelintir puting merah mudaku. Rasa nikmat lebih hebat ada di bawah. Andri bukan hanya mengerjai klitorisku dengan lidahnya, 2 jarinya sudah dimasukkan ke dalam liang surgawiku. Hanya saja kenikmatannya sedikit berkurang karena desahanku tertahan ciumaanku dengan Riski.

Aku sudah tak peduli apapun. Aku tak peduli statusku sebagai seorang Istri. Yang kuingin saat ini hanyalah meraih kenikmatan dari kedua laki - laki yang sedang menikmatiku saat ini.

Hanya 5 menit diperlakukan seperti itu, aku merasa gelombang orgasme yang tadi tertunda akan datang. Benar saja, seluruh badanku terasa ringan, seperti tidak ada tulang ditubuhku.  Badanku melengkung menahan nikmat yang sudah lama tak ku rasakan ini.

"Achhssss, ouchhhh aku mauuuhh nyampeeeeehhh", teriakku begitu ku lepas ciumanku dengan Riski.

"Sreet sreet sreeeet", ku rasakan vaginaku menyemprotkan cairan cintaku.

"Ouchhss ouchhssss", aku mencoba mengatur nafas, ini adalah orgasme yang paling hebat ku rasakan. Tak pernah senikmat ini ku dapatkan dari suamiku. Andri dan Riski memberikanku kesempatan untuk istirahat sejenak.

"Gimana bu, enak kan?", tanya Riski yang hanya ku diamkan saja.

"Ayo bu, giliran ibu yang muasin kami", kata Andri seraya melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya, disusul dengan Riski yang juga melakukan hal yang sama. Kami bertiga sudah telanjang bulat. Sama - sama siap merengkuh kenikmatan dunia yang sebentar lagi kami lakukan. 

Astaga, begitu besarnya penis mereka berdua. Punya suamiku tak ada setengahnya dari milik mereka berdua. Penis Andri mungkin panjangnya sampai 18 cm, sedangkan penis Riski lebih pendek 2 cm namun lebih gemuk dan urat - uratnya lebih menonjol daripada milik Andri. Tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya bila kedua penis itu mengaduk - ngaduk vaginaku nanti.

"Bu, kami mau ngentotin mulut ibu dulu", kata Riski sambil menyodorkan penisnya di depan wajahku, begitu juga Andri yang sambil mengocok penisnya sendiri.

"Aku tak bisa melakukannya", kataku yang memang hanya baru sekali seumur hidupku melakukannya dengan suamiku karena aku dan suamiku memang pasangan yang masih kolot dan menganggap tabu melakukan hal seperti itu.

"Aayo lah bu, jangan sampai kami memaksa", kata Andri yang sedikit keras sambil menyentuhkan penisnya ke pipiku. Aroma penisnya sungguh kuat, birahiku semakin naik mencium aromanya yang sungguh sangat jantan.

"Tolong, terserah kalian mau memakai tubuhku seperti apa. Tapi jangan yang ini", kataku yang masih enggan untuk menghisap penis mereka.

"Ah, cepat hisap kontol kami", paksa Riski dengan memegang kepalaku dan menjajalkan penisnya ke bibirku. Aku masih menutup bibirku, namun mereka tak mau menyerah begitu saja. Andri kemudian memelintir putingku, aku pun tak kuasa menahan desahanku. Begitu aku mendesah, langsung dimanfaatkan Riski memasukkan penisnya ke mulutku. Dimaju mundurkannya penis di mulutku hingga aku sedikit tersedak.

"Bu, kami tak ingin menyakitimu, makanya hisap kontol kami betul - betul", Kata Riski merayuku lagi. Aku tak punya pilihan selain menuruti kemauan mereka. Sekarang giliran aku yang memaju mundurkan kepalaku. Aku mengingat - ingat film porno yang pernah ku tontonkan tentang bagaimana cara menghisap penis. Andri kemudian meraih tanganku, membimbingnya ke penisnya. Ku kocok penis Andri dengan tanganku, sambil ku puaskan hasrat Riski menyetubuhi mulutku.

Bergantian kedua penis itu pun memasuki mulutku, dan aku pun mulai menikmatinya, ada rasa gemas melihat kedua penis itu. Tak hanya menghisap, Andri dan Riski memintaku juga menjilat batang penis mereka dari kepala sampai ke pangkalnya, juga memintaku untuk menjilat kantung pelir mereka yang semuanya ku turuti.

Puas mengerjai mulutku, mereka pun meminta menu utamanya. Aku ditelentangkan oleh Andri, aku pun membuka pahaku bersiap menerima penisnya memasuki tubuhku.

"Ayo, bu. Minta lagi ke kami. Bilang ibu minta kontol kami ngentotin memek ibu", kata Andri. Apalagi ini pikirku?

"Ayo bu cepat, kalau nggak kami nggak akan ngentotin memek ibu, tapi pantat ibu", sambungnya. Ah, sial mau tak mau aku yang sudah tak punya pilihan menuruti maunya lagi.

"Aku... aku mau punya kalian masuk ke punyaku", kataku.

"Bukan bu, ibu mau kontol kami ngentotin memek ibu", katanya lagi. Astaga, apa aku harus menggunakan kata - kata itu? Kata - kata yang jorok bagiku. Ah, sudah lah, lebih baik ku turuti saja.

"Plis, aku mau kontol kalian ngentotin memekku", kataku menurutinya. Entah mengapa, nafsuku langsung naik tinggi ketika menyebutkan kata - kata itu? Begitu merangsang kata - kata itu keluar dari mulutku.

Tanpa menjawab, Andri pun menempelkan kontolnya di memekku. Digeseknya terlebih dulu, dan perlahan kontolnya mulai menembus masuk ke memekku. Inci demi inci ku rasakan kontol Andri bergesekan dengan dinding memekku. 

"Achhhssh", desahku begitu ku rasakan kontol Andri menyentuh rahimku. Mentok, dan terasa penuh di bawah sana. Kontol Andri begitu keras ku rasakan dan hangat, kenikmatan langsung menjalar di sekujur tubuhku. Andri pun perlahan memajukan mundurkan penisnya dan semakin lama semakin cepaf.

"Achhsss ohhhh konnn tooolmuuh besaarrh betull, Ndri", desahku menikmati sodokan kontol Andri

"Acchhhhs achhhh penuh memekku rasanya"

"Ouuchh terushhh sayaangghhh, puasinnnh aku"

"Oucchhh enaakkhhh nikmaahhtt oucchhh entooohhtin aku, ndri"

Andri merasa disemangati dengan desahan - desahanku, goyangannya semakin dipercepat. Riski akhirnya tak tahan juga, melihat mulutku menganggur, ia sodorkan kontolnya ke mulutku. Aku yang sudah tak sadar akan statusku pun lansung menyambut kontolnya dengan mulutku. 

Riski kemudian meinginkan posisi 69, sambil kontolnya berada di dalam mulutku, ia pun menjilati klitorisku. Rasa nikmat yang ku rasakan pun semakin menjadi - jadi, memekku ditusuk oleh kontol Andri, sedangkan klitorisku dijilati oleh Riski, membuatku dibelenggu rasa nikmat yang tidak tertahankan yang menjalar di sekujur tubuhku. 

"Mmhhmmm mhhmmm mhhmmm" desahanku masih terdengar meskipun tertahan kontol Riski.

"Achhh terusssshhh lbihhh cepetthhh entotinnn aku nyaahhhh", ketika kontol riski terlepas dari mulutku.

Mereka berdua pun tak kalah menikmatinya, erangan kenikmatan sesekali keluar dari mulut mereka. 10 menit dalam posisi seperti itu, ku rasakan aku hendak mencapai orgasmeku yang kedua. Semuanya terasa begitu nikmat, tak mampu aku mengeluarkan kata - kata. Hanya desahan kenikmatan yang keluar dari mulutku. Mataku sampai kehilangan bola hitamnya, saking nikmatnya orgasme keduaku.

Setelah orgasme ku usai, Andri meminta berganti posisi. Aku yang di atas kali ini. Ku naik turunkan badanku di atas tubuh Andri, Riski kemudin menyambar bibirku. Kami berciuman dengan liar, ludah kami saling bertukar. Susuku diremas - remas olehnya.

Aku menggoyangkan badanku sejadi - jadinya, mengejar kenikmatan dari persetubuhan kami ini.  Menerima goyangan ku yang dahsyat, Andri mengatakan akan keluar. Ditolaknya tubuhku, lalu diarahkan kontolnya ke muka ku. 

"Crootts croottsss crottsss", air mani Andri menyiram wajahku. Yang mengenai bibir sampai merembes ke dalam mulutku. Rasanya asin dan gurih, dan karena naluriku langsung saja ku telan air mani Andri yang merembes ke mulutku itu.

Setelah Andri, kini giliran Riski. Ia memintaku menungging. Dimasukkannya kontolnya yang lebih gemuk dari milik Andri itu ke memekku dari belakang. Dan karena sudah sangat becek, Riski langsung memompa tubuhku dengan tempo cepat, badanku terlonjak - lonjak karenanya. Payudaraku yang menggantung di remasnya. 

"Achhhsss risssh kontollmuhhh enaakkhhh", racauku

"Entotiihhh aku risshhh semauumuuuh"

"Acchhhss ahhccchhh emhhh ohhh enakkknyahhh"

Rasa kontol Riski lebih hebat dari milik Andri, apalagi suamiku. Urat - uratnya begitu terasa menggesek dinding rahimku. Riski pun sangat menikmati lubang memekku yang baginya pasti begitu rapat. 

"Ahhh andriii aku minta kontolmuuh sayaaanghhh", kataku yang melihat Andri menganggur. Andri pun mendekat dan menyodorkan penisnya ke mulutku yang langsung ku hisap dengan nafsunya. Masih ada sisa air mani di kontolnya yang terasa sangat segar di mulutku. Riski mempercepat goyangannya sambil sesekali memukul pantatku.

"Achhss achhh aku mauuhh nyampehhh lagiiihh", pekikku ketika orgasme ketiga akan datang.

"Sama sama buu keluarnyaahh", erang Riski.

"Akuhh jugaaa", sambung Andri

Dan setelah itu, kami bertiga secara bersamaan mendapatkan orgasme kami.

"Srett sreeettt sreeettt", ketika memekku menyemprotkan cairan cintanya untuk ketiga kalinya.

"Crotssss crotss crottsss", air mani Riski dan Andri keluar bersamaan di memek dan mulutku. Terasa hangat sekali memekku menerima siraman air mani dari Riski, sementara mulutku terasa penuh dengan agar - agar karena dipenuhi oleh air mani Andri yang langsung ku telan.

Kami bertiga pun terkapar lelah di ranjangku. Ranjang yang seharusnya hanya boleh digunakan aku dan suamiku. Namun, kali ini ada 2 laki - laki yang memberiku kepuasan yang terkapar di ranjang ini. Kepuasan yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya.

Setelah itu, kami melakukannya sekali lagi di kamar mandi sambil membersihkan diri. Dan harus terhenti sementara ketika aku harus menjemput anakku. Dan malam hari setelah anakku tertidur, kami melanjutkan pertempuran kami sampai subuh hingga kami kelelahan. Entah berapa puluh kali aku orgasme malam itu, anakku pun sampai harus ikut tetangga ketika pergi ke sekolah PAUD nya.

Kegilaan kami tidak berhenti di situ saja, kami pernah bermain berempat dengan Bu Salmah dan beberapa istri tentara lainnya yang memang sudah ditaklukkan oleh mereka berdua. Bahkan kami pernah melakukannya ketika Suamiku tidur di ranjangku, sementara kami di lantai menggunakan kasur lipat. Dan itu rasanya sungguh nikmat karena bercampur dengan perasaan berdebar takut suamiku terbangun karena desahan - desahanku. Lain kali, akan ku tuliskan cerita kegilaan kami lainnya.

Sekian.
Load disqus comments

0 komentar